Meletakkan film Indonesia
pada porsinya, sebagai media informasi ataupun hiburan adalah salah satu cara
‘menonton’ film. Perkembangan film Indonesia sejak kebangkitannya menuai
berbagai macam konsekuensi, baik konsekuensi kualitas maupun kuantitas,
ditambah lagi dengan perkembangan teknologi digital yang semakin memudahkan
insan film untuk berkarya. Kuantitas film Indonesia yang makin banyak ini
tentunya mengakomodir kepentingan para pembuatnya baik produser, investor,
maupun pemegang kendali proses berkarya,sutradara.
Bioskop, Karakter Bangsa?
Salah satu pertanyaan
terbesar era pemerintahan dewasa ini adalah bagaimana karakter bangsa yang
menjadi jargon Joko Widodo mampu bertumbuh di tengah ciri terbesar peradaban
pasar bebas dewasa ini, yakni kebebasan konsumen memilih produk. Bebas memilih
buah impor atau lokal. Bebas menonton film di bioskop. Warga hanya jadi warga
konsumen bukan warga negara?
Bagi saya, yang termulia
dalam membaca peradaban dewasa ini, justru perlombaan bangsa-bangsa beradab
untuk melahirkan strategi produktivitas lokal dalam penghormatan pasar bebas.
Pada kerja ini, maka warga tidak lagi sekadar diperlakukan sebagai warga
konsumen, namun warga negara. Pada kemuliaan kata warga negara, maka pemerintah
hingga sektor swasta yang mengelola ruang tumbuh warga negara, senantiasa ikut
bertanggung jawab atas kualitas tumbuhnya masyarakat sipil yang semakin kritis
dan punya rasa krisis, yakni semakin produktif, berpengetahuan,
berketerampilan, berselera, serta semakin beretika berbasis profesionalisme.
Film Nasional vs Bioskop
Mas Jokowi, iki tenan loh, Pak. Film Indonesia ora duwe bioskop. ~ Slamet Rahardjo Djarot
Menjelang perayaan Hari
Jadi Ke-65 Film Nasional pada 30 Maret 2015, sejumlah budayawan dan
sutradara/produser film Tanah Air mencemaskan kondisi perfilman kita akibat
perilaku sekelompok bioskop yang dinilai diskriminatif, tidak etis. Tampaknya
Garin Nugroho kini sudah ”dewasa”. Dia mengklaim film nasional yang masih ada
penontonnya diturunkan/dicabut pemutarannya oleh pihak bioskop dengan
semena-mena, sementara film impor Hollywood terus diputar walau sudah tidak ada
penonton. Perilaku tidak fair ini membuat Garin memohon Presiden Joko Widodo
segera turun tangan membenahi ketimpangan-ketimpangan dalam pengelolaan
perfilman kita.
Adapun Slamet Rahardjo
Djarot meminta perhatian Presiden saat menerima penghargaan Pencapaian Seumur
Hidup pada FFI 2015 di Palembang. Untuk pertama kalinya mendapat kehormatan
dihadiri oleh Presiden RI.
Subscribe to:
Posts (Atom)