Mas Jokowi, iki tenan loh, Pak. Film Indonesia ora duwe bioskop. ~ Slamet Rahardjo Djarot
Menjelang perayaan Hari
Jadi Ke-65 Film Nasional pada 30 Maret 2015, sejumlah budayawan dan
sutradara/produser film Tanah Air mencemaskan kondisi perfilman kita akibat
perilaku sekelompok bioskop yang dinilai diskriminatif, tidak etis. Tampaknya
Garin Nugroho kini sudah ”dewasa”. Dia mengklaim film nasional yang masih ada
penontonnya diturunkan/dicabut pemutarannya oleh pihak bioskop dengan
semena-mena, sementara film impor Hollywood terus diputar walau sudah tidak ada
penonton. Perilaku tidak fair ini membuat Garin memohon Presiden Joko Widodo
segera turun tangan membenahi ketimpangan-ketimpangan dalam pengelolaan
perfilman kita.
Adapun Slamet Rahardjo
Djarot meminta perhatian Presiden saat menerima penghargaan Pencapaian Seumur
Hidup pada FFI 2015 di Palembang. Untuk pertama kalinya mendapat kehormatan
dihadiri oleh Presiden RI.
”Flag carrier”
Sineas sekaliber Garin
Nugroho dan Slamet Rahardjo sungguh sadar bahwa seni film adalah flag
carrier-nya kebudayaan bangsa. Mereka berhak sepenuhnya untuk menancapkan
bendera kebudayaan itu di setiap jengkal tanah bumi pertiwi. Maka, apabila ada
bioskop atau kelompok bioskop yang menghalangi, melecehkan, bahkan sampai
menolak penancapan bendera tersebut di bumi tempat bioskop itu berpijak, apakah
ini tidak merupakan keangkuhan dan suatu kesalahan besar?
Hans Gunadi, President
Director Cinema 21, disertai Corporate Cinema 21 Catherine Keng berkunjung ke
kantor Redaksi Kompas di Jakarta pada Selasa (7/4). Pada kesempatan
itu Hans menyatakan bahwa film dalam negeri tetap mendapatkan tempat untuk
diputar di bioskop-bioskop Cinema 21 karena hal itu merupakan komitmen Cinema
21 untuk memajukan perfilman Indonesia.
Benarkah? Simaklah
beberapa dari sekian fakta yang kontradiktif berikut ini: hingga sekitar
sepuluh tahun lalu bioskop Blok M Plaza 21 sudah menjadi sangat potensial bagi
film nasional. Bahkan, pernah terjadi seluruh enam layarnya memutar hanya film
nasional. Namun, itu tak pernah terjadi lagi dan mayoritas film yang diputar di
bioskop tersebut adalah film impor saja. Mengapa?
Selanjutnya, apabila
Cinema 21 serius bertekad hendak memajukan perfilman nasional seperti yang
dikemukakan Hans tadi, mengapa hampir setiap kali Cinema 21 mengiklankan
pembukaan bioskop baru berlayar 4, 6, dan 8, tidak memutar film nasional?
Apakah film nasional tidak layak diputar saat pembukaan bioskop tersebut? Satu
hal mencolok ialah mayoritas iklan film nasional tidak dimuat di The
Jakarta Post, sementara iklan semua film India terpampang di TJP sebesar
dua kolom. Mengapa?
Hans juga mengatakan,
”lebih mudah membuat keputusan menurunkan film impor dari layar ketimbang
menurunkan film nasional”. Memang mudah sekali menurunkan film impor AS non-major
company, apalagi yang mengimpor film tersebut adalah PT Omega Film yang
sesungguhnya terkait dengan Cinema 21. Film-film dari major company baru
bisa diturunkan apabila persentase penonton di bawah persentase yang ditetapkan
oleh sang major company. Menurunkan film mereka secara sembrono akibatnya
malah sangat fatal bagi bioskop.
Jangankan menurunkan,
menolak tidak memutar film yang sudah dijadwal oleh major companymereka
tak kuasa. Hal ini terbukti ketika mereka ”hanya” memasang satu film dari
Hollywood, Ant-Man, saat liburan panjang Idul Fitri sebagai keberpihakan
mereka terhadap film negeri sendiri (Kompas, 11/7). Patut dijelaskan di sini
bahwa selama bulan puasa, bioskop sama sekali tidak memutar film nasional.
Padahal, sudah menjadi semacam kebiasaan bertahun-tahun bioskop memutar 8
hingga 10 judul film nasional di luar bulan puasa.
Pertanyaannya, mengapa
hanya empat film nasional yang diputar menjelang Lebaran? Apakah bioskop tidak
bisa menjadikannya sebagai bebas film impor? Memang tidak bisa! Menurut majalah
AS, Time, edisi 01-06 2015, jadwal pemutaran Ant-Man sudah
dipatok secara serentak pada 17-7-2015! Jadi, janganlah berbicara bioskop
memihak film negeri sendiri karena hanya memutar satu film impor, yaitu Ant-Man tadi.
Semoga pemutaran empat
film nasional menjelang Lebaran, Surga yang Tak Dirindukan,Mencari Hilal,
Comic 8 Kasino Kings (Part-I), dan Lamaran, menyemut penontonnya dan tidak
malah ditelan oleh ”Manusia Semut”!
Akhirnya Hans berharap
agar pembuat film nasional memproduksi film berkualitas dan disukai masyarakat.
Jika film kekurangan penonton, pengusaha bioskop sulit bertahan. Mengapa hanya
film nasional yang diberi embel-embel berkualitas dan disukai masyarakat,
sementara film impor tidak? Apakah mayoritas film India berkualitas dan
disukai? Rasanya hanya My Name Is Khandan PK memenuhi kriteria
tersebut.
Masih terkait dengan
kunjungan ke Redaksi Kompas, Catherine Keng menambahkan, ”meski jumlah
film impor lebih besar daripada film nasional, belum tentu berkesempatan
diputar di bioskop di Indonesia”. Terus terang saja, Catherine tidak jujur.
Faktanya, tatkala sang bagian akuisisi film bertransaksi untuk film Twilight yang
sebanyak tiga episode itu, pihak Summit Pictures yang menangani penjualan Twilight dalam
keadaan apa pun tidak mau melepasnya tanpa film-film ”kawinan”.
Nah, film-film kawinan
itulah yang tidak diputar. Sama halnya dengan film India, Kites, yang
distributornya di AS ”mengawinkannya” dengan film India lain, yaitu Welcome
Abba. Akibatnya,Welcome Abba harus tetap dibeli sekalipun tidak diputar.
Inilah yang diistilahkan ”Paid but unplayed”.
Perombakan total
Kehadiran pemerintahan
baru—pemerintahan Jokowi-JK—saat ini ternyata masih sebatas euforia. Benar
bahwa untuk pertama kalinya Presiden RI menghadiri FFI di Palembang akhir tahun
lalu, bahkan kemudian Presiden RI mengundang para insan film untuk diskusi di
Istana sambil nonton film nasional.
Meski ada semangat dari
Presiden, bahkan dengan keras memberi batas waktu satu tahun kepada menteri dan
pihak-pihak yang mengatur perfilman nasional, toh belum juga dirasakan
langkah-langkah konkret yang memberi harapan. Ucapan dan semangat Presiden
seakan berhenti setelah para insan film nasional menuruni tapak tangga Istana
untuk pulang. Tak terlihat langkah strategis apa pun yang dilakukan eksekutif
untuk menggalakkan film nasional.
Agar gertakan Presiden
bahwa pada 30 Maret 2016 hari jadi kebangkitan film nasional menjadi kenyataan
dan bukan lagi sebuah impian kosong, upaya pembenahan perfilman nasional secara
komprehensif dan struktural wajib sesegera mungkin dilakukan. Segala sesuatunya
sudah terang benderang dan terlihat secara kasatmata. Lantas tunggu apa lagi?
Sekaranglah saatnya
perombakan total atau tidak sama sekali, Pak Presiden!
Pertama kali dimuat di Kompas, Minggu 2
Agustus 2015, hlm 27.
No comments:
Post a Comment